Waspada Melasma! Jangan Anggap Semua Flek Hitam di Wajah Itu Sama

Munculnya flek hitam di wajah sering kali dianggap sebagai masalah kulit biasa. Padahal, tidak semua noda gelap memiliki penyebab yang sama.

Glowing Journal – Munculnya flek hitam di wajah sering kali dianggap sebagai masalah kulit biasa. Padahal, tidak semua noda gelap memiliki penyebab yang sama. Salah satunya adalah melasma, gangguan pigmentasi kulit yang dikenal sulit ditangani dan berpotensi kambuh jika tidak mendapatkan diagnosis serta terapi yang tepat.

Melasma merupakan kondisi hiperpigmentasi yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna cokelat muda hingga cokelat gelap, terutama pada area wajah yang paling sering terpapar sinar matahari, seperti pipi, dahi, hidung, dan atas bibir. Selain memengaruhi penampilan, melasma juga dapat berdampak pada rasa percaya diri, aktivitas sosial, hingga kualitas hidup penderitanya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen penderita melasma adalah perempuan, khususnya pada usia reproduktif. Masyarakat Indonesia pun termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi karena tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sepanjang tahun. Selain itu, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV–V yang secara alami lebih rentan mengalami hiperpigmentasi.

Tak hanya sinar UV, melasma juga dapat dipicu oleh berbagai faktor lain, seperti perubahan hormon, faktor genetik, paparan visible light, hingga proses inflamasi pada kulit. Karena penyebabnya beragam, penanganannya pun tidak bisa disamakan dengan flek hitam biasa.

Masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai melasma inilah yang mendorong PT Unison Medika Jaya menggelar edukasi dalam rangka memperingati Melasma Awareness Month. Kegiatan tersebut menghadirkan dokter spesialis kulit, dokter estetika, serta penyintas melasma untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya diagnosis yang tepat dan penanganan yang komprehensif.

Pengalaman tersebut dibagikan pula oleh Margaret Vivi, penyintas melasma. Ia mengaku sempat mengira noda di wajahnya hanyalah flek biasa hingga akhirnya berkonsultasi dengan dokter.

“Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten,” ungkapnya.

Menurut dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, memastikan diagnosis menjadi langkah paling penting sebelum menentukan terapi.

“Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit. Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan skin booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendekatan terapi modern kini tidak hanya berfokus pada memudarkan noda hitam, tetapi juga memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh agar hasil yang diperoleh lebih optimal.

Sementara itu, dr. Ratna Yuliarviana, dokter estetika, menjelaskan bahwa terapi melasma membutuhkan kombinasi beberapa pendekatan, bukan hanya penggunaan skincare semata.

“Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel. Terapi ini perlu diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan,” ujarnya.

Sebagai salah satu pilihan terapi, Xela Rederm hadir sebagai skin booster dengan kombinasi Hyaluronic Acid dan Succinic Acid yang bekerja membantu memudarkan hiperpigmentasi sekaligus meningkatkan hidrasi dan memperbaiki kualitas kulit. Pendekatan ini dikenal sebagai redermalisasi, yaitu terapi yang tidak hanya berfokus pada warna kulit, tetapi juga membantu menciptakan kulit yang lebih sehat secara menyeluruh.

Hasil terapi tersebut juga dapat dioptimalkan dengan AQ Serum yang mengandung Growth Factors. Formula ini membantu mendukung regenerasi sel kulit, mengurangi proses inflamasi, serta mempercepat pemulihan sehingga tampilan hiperpigmentasi dapat berangsur membaik.

Meski demikian, keberhasilan penanganan melasma tidak hanya bergantung pada tindakan di klinik. Penggunaan tabir surya dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi setiap hari tetap menjadi langkah penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV maupun visible light, sekaligus membantu mengurangi risiko kekambuhan.

Karena itu, apabila mulai muncul bercak kecokelatan yang sulit memudar di wajah, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai flek biasa. Segera konsultasikan dengan dokter agar mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai. Dengan kombinasi terapi yang tepat, penggunaan produk pendukung seperti Xela Rederm dan AQ Serum, serta kebiasaan menggunakan sunscreen setiap hari, melasma dapat dikendalikan sehingga kesehatan dan penampilan kulit tetap terjaga.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!